Apa itu AKM (Asesmen Kompetensi Minimum)?
Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) adalah penilaian yang dikembangkan Kemendikbud untuk mengukur dua kompetensi mendasar siswa: literasi membaca dan numerasi. AKM menggantikan Ujian Nasional (UN) dalam sistem penilaian nasional Indonesia.
Berbeda dengan UN yang menguji konten mata pelajaran, AKM mengukur kemampuan siswa dalam memahami dan menggunakan teks (literasi) serta konsep matematika dalam konteks kehidupan nyata (numerasi).
Karakteristik Soal AKM
Soal AKM memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari ujian konvensional:
- Berbasis stimulus — setiap soal diawali dengan teks bacaan, infografis, tabel data, atau studi kasus. Siswa harus memahami stimulus sebelum menjawab soal.
- Kontekstual — menggunakan situasi nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa
- Multi-tipe — satu stimulus bisa diikuti oleh 3–5 soal dengan tipe berbeda (pilihan ganda, MCMA, benar/salah, isian singkat)
- Level kognitif tinggi — mayoritas soal berada di level C3–C5 (aplikasi, analisis, evaluasi)
Perbedaan AKM dan Ujian Konvensional
| Aspek | Ujian Konvensional | AKM |
|---|---|---|
| Yang diukur | Hafalan konten materi | Kemampuan berpikir kritis |
| Format soal | Pilihan ganda sederhana | Berbasis stimulus, multi-tipe |
| Konteks | Abstrak, akademik | Kontekstual, kehidupan nyata |
| Mata pelajaran | Semua mapel | Literasi dan Numerasi saja |
| Tujuan | Nilai per mapel | Kompetensi dasar lintas mapel |
Tipe Soal dalam AKM
Platform CBT yang mendukung AKM harus mampu menampilkan beberapa tipe soal:
- Pilihan ganda (PG) — satu jawaban benar dari beberapa opsi
- Pilihan ganda kompleks — beberapa jawaban bisa benar (MCMA), contoh: "Manakah pernyataan yang BENAR?"
- Pernyataan Benar/Salah — siswa menilai serangkaian pernyataan terkait stimulus
- Menjodohkan — menghubungkan elemen dari dua kolom
- Isian singkat — jawaban berupa angka atau kata kunci
Contoh Soal AKM Numerasi
Stimulus: Tabel berikut menunjukkan penjualan es krim di toko A selama 5 hari:
Senin: 45 | Selasa: 62 | Rabu: 38 | Kamis: 71 | Jumat: 84
Soal 1 (PG): Berapa rata-rata penjualan es krim per hari?
A) 55 B) 58 C) 60 D) 63
Soal 2 (Benar/Salah): Tentukan benar atau salah pernyataan berikut:
— Penjualan hari Jumat lebih dari dua kali penjualan hari Rabu → Benar
— Median penjualan selama 5 hari adalah 62 → Salah
Cara Mempersiapkan Ujian AKM Online di Sekolah
1. Pilih Platform yang Mendukung Format AKM
Tidak semua platform CBT mendukung soal berbasis stimulus. Pastikan platform yang dipilih memiliki:
- Field stimulus terpisah yang tampil berdampingan dengan soal
- Dukungan tipe soal MCMA dan True/False
- Kemampuan menampilkan tabel, gambar, dan grafik dalam stimulus
2. Buat atau Kumpulkan Bank Soal AKM
Ada dua cara mendapatkan soal AKM:
- Buat sendiri — gunakan fitur Generate AI dengan mode Stimulus untuk menghasilkan soal AKM otomatis
- Import dari template — gunakan soal AKM dari buku atau sumber resmi Kemendikbud, lalu masukkan ke platform via Excel
3. Latih Siswa dengan Try-Out AKM
Sebelum AKM resmi, adakan try-out untuk membiasakan siswa dengan format soal berbasis stimulus. Ini juga membantu guru mengidentifikasi area yang perlu diperkuat.
4. Analisis Hasil untuk Perbaikan
Setelah try-out, gunakan data hasil ujian untuk mengidentifikasi:
- Soal mana yang paling banyak dijawab salah (indikasi materi yang perlu diperkuat)
- Siswa mana yang perlu perhatian ekstra
- Apakah ada pola kesalahan yang sistematis di kelas tertentu
CBT Pro untuk Ujian AKM
CBT Pro mendukung penuh format soal AKM dengan fitur:
- Mode Stimulus — stimulus teks/tabel tampil di panel kiri, soal di panel kanan saat ujian
- Tipe soal lengkap — MCSA, MCMA, True/False, semua dalam satu platform
- Generate Soal AI dengan mode AKM — buat soal berbasis stimulus otomatis dari topik yang kamu tentukan
- Analitik per soal — lihat tingkat kesulitan aktual dan tingkat kesalahan per soal setelah ujian
Kesimpulan
AKM bukan ujian yang bisa dipersiapkan dengan menghafal — ini membutuhkan latihan berpikir kritis yang konsisten. Platform ujian online yang tepat akan membantu sekolah tidak hanya melaksanakan AKM secara efisien, tapi juga menganalisis hasilnya untuk perbaikan pembelajaran yang berkelanjutan.