Mengapa Rapor Kurikulum Merdeka Berbeda?
Kurikulum Merdeka membawa perubahan fundamental dalam cara sekolah menilai dan melaporkan perkembangan siswa. Rapor bukan lagi sekadar daftar angka — melainkan deskripsi naratif tentang apa yang sudah dan belum dikuasai siswa.
Perubahan ini bertujuan membuat rapor lebih bermakna bagi orang tua dan siswa, bukan sekadar dokumen administratif.
Perbedaan Utama: K13 vs Kurikulum Merdeka
1. Sistem Penilaian
K13: Menggunakan nilai angka (0–100) untuk pengetahuan (KI-3) dan predikat untuk keterampilan (KI-4) dan sikap. Ada pemisahan eksplisit antara ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
Kurikulum Merdeka: Satu nilai akhir numerik per mata pelajaran, dilengkapi Capaian Kompetensi berupa narasi deskriptif. Tidak ada pemisahan KI-1 sampai KI-4.
2. Struktur Mata Pelajaran
K13: Mata pelajaran dikelompokkan menjadi kelompok A (nasional), B (kewilayahan), dan C (kejuruan untuk SMK). Pemilihan jurusan mulai kelas X.
Kurikulum Merdeka: Kelompok mata pelajaran lebih fleksibel — ada Mata Pelajaran Umum (wajib untuk semua) dan Mata Pelajaran Pilihan (dipilih siswa sesuai minat, mulai fase F/kelas XI). Tidak ada penjurusan IPA/IPS.
3. Sistem Fase vs Kelas
K13: Menggunakan sistem kelas (X, XI, XII).
Kurikulum Merdeka: Menggunakan sistem Fase — Fase E untuk kelas X, Fase F untuk kelas XI dan XII. Ini mengubah cara guru merencanakan pembelajaran (per fase, bukan per kelas).
4. Capaian Kompetensi
K13: Deskripsi kompetensi biasanya dibuat manual oleh guru berdasarkan KD (Kompetensi Dasar) yang sudah tercantum di kurikulum.
Kurikulum Merdeka: Guru menyusun Tujuan Pembelajaran (TP) sendiri berdasarkan Capaian Pembelajaran (CP) yang ditetapkan pemerintah. TP inilah yang menjadi basis narasi rapor.
5. Format Tanda Tangan
Pada rapor Kurikulum Merdeka, posisi tanda tangan mengikuti panduan Kemendikbud: Orang Tua/Wali di kiri, Wali Kelas di kanan, Kepala Sekolah di tengah bawah.
Apa yang Harus Disiapkan Sekolah?
Transisi dari K13 ke Kurikulum Merdeka membutuhkan beberapa persiapan:
Persiapan Administratif
- Update data fase untuk setiap tingkat (X=E, XI-XII=F)
- Susun ulang kelompok mata pelajaran sesuai struktur baru
- Tentukan paket pilihan untuk kelas XI-XII (tidak ada lagi IPA/IPS)
Persiapan Akademik
- Guru menyusun Capaian Pembelajaran (CP) per mata pelajaran
- Dari CP, turunkan menjadi Tujuan Pembelajaran (TP) per kelas per semester
- TP ini yang akan diinput ke sistem rapor untuk generate Capaian Kompetensi otomatis
Persiapan Teknologi
- Pilih platform e-rapor yang sudah mendukung format Kurikulum Merdeka
- Pastikan platform bisa generate Capaian Kompetensi otomatis dari TP dan predikat
- Integrasi dengan sistem ujian jika menggunakan CBT
Pertanyaan Umum Seputar Rapor Kurikulum Merdeka
Apakah ada nilai minimum (KKM) di Kurikulum Merdeka?
Secara resmi, Kurikulum Merdeka tidak menggunakan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) seperti K13. Gantinya menggunakan KKTP (Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran) yang lebih fleksibel dan ditetapkan per tujuan pembelajaran oleh guru.
Bagaimana dengan nilai angka di rapor?
Nilai angka (0–100) tetap ada di rapor Kurikulum Merdeka, namun dilengkapi dengan narasi Capaian Kompetensi. Predikat mengacu pada rentang: A (≥90), B (75–89), C (60–74), D (<60).
Apakah format rapor sama untuk semua jenjang?
Secara struktur sama, namun kontennya berbeda. SMA/MA menggunakan Fase E (kelas X) dan Fase F (kelas XI-XII). SMK memiliki pengelompokan yang lebih spesifik berdasarkan program keahlian.
Kesimpulan
Perubahan rapor dari K13 ke Kurikulum Merdeka bukan sekadar perubahan format — ini perubahan filosofi penilaian. Rapor menjadi lebih deskriptif, lebih bermakna, dan lebih fokus pada perkembangan kompetensi individual siswa.
Dengan platform e-rapor yang tepat, transisi ini tidak harus menyulitkan guru. E-Rapor Pro di CBT Pro membantu sekolah membuat rapor Kurikulum Merdeka yang sesuai standar — dengan Capaian Kompetensi otomatis, kelompok mapel fleksibel, dan cetak PDF langsung dari browser.